Beberapa waktu lalu, ada seseorang yang saya lupa siapa, berbagi sebuah foto di sosial media. Foto itu cukup populer di ranah online dan sering dijadikan materi perang gambar di berbagai forum onlinedi Facebook.

Euforia 1 Muharram 1438 H

Pagi itu, Ahad 2 Oktober 2016 bertepatan dengan hari pertama tahun baru hijriah 1438, ketika jam menunjukkan pukul 09.15 WIB, ratusan pemuda-pemudi...

Cinta Dan Cita-Cita

Dua kata berbeda yang saling berkaitan, berkesinambungan dan saling menguatkan. Emm... bagaimana bisa ? Baiklah, mari sejenak memutar otak, mengingat kembali kisah perjuangan seorang budak. Yang sempat membuat hati Rasulullah retak....

Siapa Lagi?

Siapa lagi ? Tepat sudah setahun terlewat Tapi duhai... Sesal, sedih, marah, benci Melihat semua cerminan diri Siapa lagi ? Tatkala tahun telah berganti

النجاح

Semakin ku kejar, semakin kau jauh... Sepotong lirik lagu yang jika dipandang dari segi perjuangan menggapai kesuksesan hanya akan menambatkan rasa pesimis dalam hati seseorang.

Tampilkan postingan dengan label KIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KIS. Tampilkan semua postingan

النجاح

Semakin ku kejar, semakin kau jauh...
Sepotong lirik lagu yang jika dipandang dari segi perjuangan menggapai kesuksesan hanya akan menambatkan rasa pesimis dalam hati seseorang.
Merupakan salah satu ujian terbesar saat seseorang menjadi pengampu cita-cita tinggi nan mulia, yang pada waktu yang sama, ia tidak mempunyai fasilitas mumpuni untuk menggapainya, hanya bermodal cita-cita. Yang demikian -bagi kebanyakan orang- hanya mendatangkan siksaan batin. Demikian lah Ibnul Jauzi rahimahullah berpendapat.
Orang yang sukses memiliki kebiasaan menghindari perkataan “Saya tidak bisa”, dan mereka yakin akan hal itu. Ambillah contoh dari salah satu negara yang masyhur dengan kemajuan pesat, yakni Jepang. Salah satu faktor kesuksesan mereka dalam berbagai disiplin ialah mengasingkan diri dari perkataan “Ah, saya pasti tidak bisa”. Mereka jauh dari ungkapan demikian. Maka, kita -sebagai calon orang sukses- lazimnya membiasakan diri dalam berkata “Saya pasti bisa!” “Ana aqdir” (saya bisa. Ed). Yakin bahwa pasti bisa, mampu, dan sadar bahwa itu memang semua butuh proses.
Bukankah anak kecil terjatuh ratusan kali hingga akhirnya ia bisa berjalan? Bukankah seorang juara tinju professional telah merasakan berkali-kali jotosan telak nan maut di wajahnya?. Sadarilah, saudaraku, bahwasanya sukses tidak pernah datang serta merta tanpa susah, tanpa payah. Memang, ada beberapa orang yang sukses tanpa payah tanpa susah. Faktor keberuntungan. Namun, ketauhilah, bahwa mereka yang sukses adalah mereka yang egonya memaafkan kegagalan dan kekecewaan. Gagal memang musibah, namun enggan bangkit setelah gagal lebih buruk daripada musibah itu sendiri.
Gigi Nabi Muhammad shallallahu alaihi was salam harus pecah sebelum sukses berdakwah...
Yusuf alahi salam harus dibuang ke sumur, di jual, hingga di penjara sebelum menjadi raja...
Musa alahi salam harus menjadi buruh upahan, di kejar-kejar si diktator tirani, Fir’aun, sebelum meraih kemenangannya.
Kegagalan dan rintangan adalah sebuah alat penguji yang akan menampakkan kualitas kuat kita dalam meraih kesuksesan. Kesuksesan harus diperjuangkan berulang kali dari berbagai jalan yang ada, berulang kali, dan berkali-kali.

-BLACK STOON-

Siapa Lagi ?

Siapa lagi ?
Tepat sudah setahun terlewat
Tapi duhai...
Sesal, sedih, marah, benci
Melihat semua cerminan diri
Siapa lagi ?
Tatkala tahun telah berganti
Tapi duhai..
Hanya janji yang kami dapati
Dari para penguasa yang mengisi kursi
Tak bernilai, tak berarti
Pun tak dapat mengobati luka negri
Siapa lagi ?
Tapi duhai..
Apalah arti menanti
Jika hanya kembali mengisi apa yang akan terjadi
Terhadap saudara-saudara kami
Yang katanya.. sehati..
Betulkah ?
Siapa lagi...
Kalau bukan diri kita sendiri
Para tombak revolusi
Para pengusung sebuah misi
Menumbuhkan cinta negri
Tuk meraih cita-cita negri
By : JUN

quote


Kisah Gadis Kecil yang Shalihah





Sebuah kisah yang mengharukan tentang keshalihahan seorang gadis bernama Afnan, yang di tuturkan oleh sang ibu, seakan–akan anda mendengar langsung dari ibunya.
 Berkatalah sang ibu gadis kecil tersebut
                Saat aku mengandung putriku Afnan, ayahku meihat mimpi di dalam tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang ke angkasa. Di antara burung-burung tersebut, ada seekor merpati putih yang cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah tentang tafsir mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafisrnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut. 
                Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yang shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal di masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan celana panjang di balik rok tersebut. Afan senantiasa menjauh dari perkara yang membuat Allah murka. Seteleh dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari perkara yang membuat Allah murka. Dia menolak pergi ke tempat-tempat permainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah sorang gadis yang selalu berpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu diatasnya, selalu menjaga sholat-sholatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala SMP mulailah dia berdakwah kepada Allah. Dia tidak pernah melihat kemungkaran kecuali dia membencinya, san memerinyah kepada yang ma’ruf, dan senantiasa menjaga hijabnya.
                Permulaan dakwahnya kepada Allah adalah permulaan masuk islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.
Ibu Afnan melanjutkan ceritanya,
                Tatkala aku mengandung putraku abdullah, aku terpaksa mempekerjakan seorang pembantu untuk merawatnya saat kepergainku karena aku adalah seorang karyawan. Ia seorang non muslim. Setelah Afnan mengetahui bahwa pembantu tersebut non muslimah, dia marah dan mendatngiku seraya berkata, “wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita, mencuci piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah wanita kafir??, aku siap meniggalakan sekolah, dan melayani kalian selam 24jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!”
                Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantu tersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebut mendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata “mama, aku sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terus mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang islam.” Maka aukpun sangat bergembira mendengar kabar baik ini.
                Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya untuk hadir di pesta pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidak akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui permintaannya setetah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan sangat mencintai pamannya tersebut.
                Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuah gaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan tekagum-kagum  dengan kecantikannya. Semua orang akan bertanya-tanya, siapa gadis ini? Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?
                Setalh menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kangker tanpa kami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Dia menyembunyikan rasa sakit itu dan berkata “hanya sakit ringan di kakiku.” Sebulan setelah itu dia menjadi pincang. Saat kami bertanya kepadanya, dia menjawab “hanya sakit ringan di kakiku, akan segera hilang insyaAllah.” Stelah dia tidak mampu lagi berjalan, kamipun membawanya ke rumah sakit.
                Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di salah satu ruangan di rumah sakit itu, sang dokter yang berkebangsaan turki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula saat itu seorang penarjemah, dan seorang perwat yang bukan muslim sementara Afnan bernaring diatas ranjang.
                Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di kakinya, dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan merontokkan seluruh rambut dan alisnya. Adapun Afnan saat mengetahui hal tesebut dia sangat bergembira dan berkata “alhamdulillah...alhamdulillah...” akupun mendekatkan dia kdi dadaku sementara aku dalam keadaan menangis. Dia berkata “wahai ummi, alhamdulillah musibah ini hanya menimpaku, bukan agamku.”
                Diapun bertahmid memuji Allah dangan suara keras, sementara semua orang melihat kepadanya dengan tercengang!!
                Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini dengan kekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang yang bersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan dengan kekuatan imannya. Adapun penerjemah dan para perawat, merekapun menyatakan keislamannya!!
                Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.
                Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya meminta akan membawakan gunting untuk memotong rambutnya sebelum rontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencoba untuk memberinya pengetian agar memenuhi keinginan pamannya, akan tetapi dia menolak dan bersikukuh seraya berkata “aku tidak ingin terhalangi dari pahala bergugurnya rambut di kepalaku.”
                Kami (aku, suamiku dan Afnan) pergi untuk pertama kalinya ke amerika dengan pesawat terbang. Saat kami tiba di sana, kami disambut oleh dokter wanita yang sebelumnya pernah bekernja di saudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa arab. Saat Afnan melihatnya, dia bertanya kepadanya “apakah ekngau seorang muslimah?” dia menjawab “tidak.”
                Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke sebuah kamar kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke sebuah ruangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara kedua air matanya berlinang air mata. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya sejak 15 tahun dia di saudi, tidak pernah seorangpun mengajaknya kepada islam. Dan di sini datang seorang gadis kecil yang mendakwahinya. Akhirnya dia masuk islam melalui tangannya.
                Di amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali mengamputasi kakinya, karana dikhawatirkan kanker tersebut akan menyebara sampai paru-paru dan akan mematikannya. Akan tetapi Afnan sama sekali tidak takut akan hal tersebut, yang ia khawatirkan adalah perasaaan kedua orang tuanya.
                Pada suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku memlaui Mesenger. Ia bertanya kepadanya “bagaimana menurutmu, apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?” maka dia mencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin bagi meraka untuk memasangkan kaki palsu sebagai gantinya.” Maka Afnan menjawab dengan satu kalimat “aku tidak memperdulikan kakiku, yang auk inginkan adalah mereka meletakkanku di dalam kuburku sementara tbuhku dalam keadaan sempurna.” Temanku berkata “setelah aku mendengar jawaban dari Afnan, aku merasa kecil di hadapannya. Aku tidak memahami sesuatupun, seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana nanti ia hidup, tetapi pikirannya lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana nanti ia mati.”
                Kami pun kembali ke saudi satelah kaki Afnan di amputasi, dan ternyata kanker telah menyarang paru-parunya!!
                Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya di atas ranjang, dan di sisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan menekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius dan jarum infus.
                Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan, dan keadaannya seperti orang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu sholat dia terbangun dari komanya, kemudian meminta air, kemudian berwudhu’ dan sholat, tanpa ada seorangpun yang membangunkannya!
                Di hari-hari terakhir Afnan, par dokter mengabari kami bahwa tidak ada gunanya lagi dia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi ia akan meninggal. Maka itu memungkinkan bagi kami untuk membawanya ke rumah. Aku ingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.
                Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan bebicara dengannya.
                Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa dia berada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khwatir terjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya namun ia tidak menjawab. Maka aku tidak mampu menguasai diri lagi dan kuputuskan unutk menuju kamarnya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatku tercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku kemudian tersenyum. Dia berkata “ummi kemarilah, aku ingin menceritakan sebuah mimpi yang telah aku lihat.” Kukatakan “mimpi yang indah insyaAllah.” Dia berkata “aku melihat diriku di hari pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau, keluargaku, kalian semua berada di sekelilingku. Semuanya berbahagia kecuali engkau ummi.”
                Akupun bertanya “Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpi tersebut?” dia menjawab “aku menyangka, bahwasanya aku akan meninggal, dan semua akan melupakanku, dan hidup dalam kehidupan mereka dalam keadaan berbahagia kecuali engkau ummi. Engkau terus mengingatku, dan bersedih atas perpisahanku.” Benarlah apa yang ia katakan. Aku sekarang ini, saat ini, saat aku menceritakan kisah ini, aku menahan sesuatu yang sangat menusuk di dalam diriku ini, setiap kali aku mengingatnya, akupun bersedih atasnya.
                Pada suatu hari aku duduk di dekat Afnan, aku dan ibuku. Saat itu Afnan berbaring di atas ranjangnya kemudai dia terbangun. Dia berkata “ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu.” Maka diapun menciumku. Kemudian dia berkata “aku ingin mencium pipimu yang kedua.” Aku pun mendekat kepadanya dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya “Afnan ucapkan la ilaaha illallah.”
                Maka dia berkata “asyhadu alla ilaaha illallah.”
                Kemudian dia menghadapkan wajahnya ke arah kiblat dan berkata “asyhadu alla ilaaha illallaah.” Dia mengucapkannya sebanya 10 kali kemudian berkata “asyhadu alla ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah.” Dan keluarlah ruhnya.
                Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyak kasturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku takut akan terjadi sesuatu terdahap diriku. Maka mereka meminyaki kamar tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

Ditulis oleh Ummu Mariah Iman Zuhair



Kelak Ketika Aku...



Kelak. Ada alasan mengapa orang begitu terpesona oleh kata ini. Kelak ketika sudah lulus dari sini, kelak ketika sudah besar nanti, kelak 15 tahun lagi...
Ya. Kelak. Sebuah kata yang melarikan seseorang dari realita, memasuki dunia khayal yang hanya ada keindahan di dalamnya. “Hidup berawal dari mimpi”, katanya. “Masa depan adalah manifestasi dari apa yang kita cita-citakan”, katanya. “Kita sekarang adalah apa yang kita lakukan kemarin, dan kita besok adalah apa yang kita inginkan sekarang”, katanya juga.

Tidak ada yang salah, tentu saja. Namun yang jadi masalah adalah ketika kata ‘kelak’ tersebut hanya sebatas di mulut saja. Hanya sebatas angan-angan belaka. Omong kosong. Betapa banyak orang yang bermimpi, namun ia tak ubahnya laiknya ‘punguk merindukan bulan’. Mimpinya sebatas mimpi belaka, perlahan pudar terurai realita.

Maka inilah yang membedakan. Mimpi selamanya akan menidurkan kita dari kenyataan, ketika tidak ada action dari kita yang bersangkutan. Al Hajib Al Manshur, tak lebih dari tukang ojek keledai di masa mudanya. Namun ia bermimpi, berkhayal, berbincang dengan sahabatnya sesama tukang ojek seraya memandangi bintang gemintang. “Kelak ketika aku sudah jadi Khalifah, kalian mau minta apa?”.

Dan itulah ia bertahun-tahun kemudian. Khalifah Andalusia. Pemimpin sebuah peradaban yang pernah memukau dunia. Mengapa? Karena memang itulah mimpinya. Lalu? Karena ia percaya. Kemudian? Karena ia bergerak. Membuktikan bahwa ia memang pantas menjadi seorang Khalifah. Ia tak hanya duduk termenung tersenyum sendiri, membayangkan hebatnya jadi Khalifah. Ya. Karena ia mengeksekusi mimpinya tersebut.

Maka bermimpilah, dengan tetap menyadari. Bahwa kau, kau yang sekarang, adalah kau yang kau impikan dahulu. Kau yang kau impikan, adalah apa adanya kau sekarang. Kau tak akan pernah berubah menjadi siapapun. Kau adalah kau. Maka langkahi setiap tahapannya, pantaskan dirimu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan, dan jadikan mimpimu itu nyata, kelak.
[NAD]

Kubaca Firman Persaudaraan

Kubaca Firman Persaudaraan

ketika kubaca firmanNya "sungguh tiap Mukmin bersaudara"
aku merasa, kadang ukhuwah tak perlu dirisaukan
tak perlu, karena ia hanya akibat dari iman

aku ingat pertemuan pertama kita, Akhi sayang
dalam dua detik, dua detik saja
aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan
itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra
dengan iman yang menyala, mereka telah mufakat
meski lisan belum saling sebut nama, dan tangan belum berjabat

ya, kubaca lagi firmanNya, "sungguh tiap Mukmin bersaudara"
aku makin tahu, persaudaraan tak perlu dirisaukan

karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai
aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita
hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil
mungkin dua-duanya, mungkin kau saja
tentu lebih sering, imankulah yang compang-camping

kubaca firman persaudaraan Akhi sayang
dan aku makin tahu, mengapa di kala diancamkan
"para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain...
kecuali orang-orang yang bertaqwa"





 dikutip dari buku "Dalam Dekapan Ukhuwah"
karya Salim A fillah

Salah Nalar


Pembawa acara atau MC dituntut memiliki kecakapan untuk menghidupkan suasana dalam sebuah acara. Karena tujuan utamanya untuk memimpin/memandu sebuah acara, tentu kecakapan berbahasa mutlak diperlukan. Terlebih jika menjadi pembawa acara pada acara-acara resmi. Akan tetapi, sudah benarkah bahasa yang mereka gunakan?


Apabila dicermati, bahasa pembawa acara di forum-forum resmi ternyata masih ada kesalahan, terutama salah nalar. Pertama, salah nalar pada saat mengawali acara. Pembawa acara sering mengatakan, “Para hadirin sekalian yang berbahagia, untuk menyingkat waktu marilah kita mulai acara ….” Apabila dicermati, sebenarnya pernyataan di atas tidak benar secara logika dan tata bahasa. Kata hadirin sudah menunjukkan jamak sehingga tidak perlu menambahkan kata para ataupun sekalian. Frasa menyingkat waktu tidak logis karena waktu tidak bisa disingkat. Idealnya pembawa acara menggunakan frasa mengefektifkan waktu. Sebaiknya pembawa acara mengatakan, “Hadirin yang berbahagia, untuk mengefektifkan waktu marilah kita mulai acara …”


Kedua, salah nalar pada saat menyebutkan pergantian acara. Pembawa acara sering mengatakan “Menginjak acara berikutnya” atau “Memasuki acara berikutnya”. Kalimat tersebut tidak logis karena acara tidak untuk diinjak dan tidak bisa dimasuki. Kalimat yang tepat yaitu “Acara selanjutnya adalah …”


Ketiga, salah nalar pada saat mempersilakan seseorang memberi sambutan. Kita sering mendengar “Kepada yang terhormat Bapak Kepala Dinas … waktu dan tempat kami persilakan.” Penggunaan “kepada” untuk mengawali sebuah sapaan tentu tidak benar, begitu pula penggunaan “waktu dan tempat”. Jika pembawa acara hanya satu sebaiknya menggunakan “saya”. Meskipun “kami” dirasakan lebih halus, tetapi tidak tepat untuk menyebut orang pertama tunggal. Kalimat yang sebaiknya diucapkan adalah “Yang terhormat Kepala Dinas … kami/saya persilakan.”


Keempat, salah nalar pada saat menutup acara. Tidak jarang pembawa acara mengatakan “Atas perhatiannya kami ucapkan banyak-banyak terima kasih.” Contoh tersebut jelas salah secara logika. Penggunaan “nya” itu untuk pihak ketiga, padahal hadirin adalah pihak kedua. Penggunaan banyak selain salah nalar karena terima kasih bukanlah kuantitas, juga berlebihan atau mubazir. Kalimat yang benar adalah “Atas perhatian Bapak/Ibu/Saudara, kami/saya mengucapkan terima kasih.”


Memang kesalahan yang dilakukan berulang-ulang tanpa ada pembenaran akhirnya dianggap sebagai sebuah kebenaran. Yang jelas, diharapkan dalam berbahasa kita membiasakan yang benar bukan membenarkan yang biasa. Dari mana kita memulai? Dari diri kita dan mulai sekarang juga! [Giyato(Guru B. Indo)]

Karena Nasihat itu Berlian

Siapa yang tidak menginginkan berlian? Indah, menawan, memesona, tak ternilai harganya.

Namun apalah artinya jika kita memberikan berlian itu dengan melemparkannya ke kepala orang yang ingin kita beri? Bukannya menerima dengan senang hati, namun justru amarah yang akan memendam di hati mereka, bukan?

Itulah adanya sebuah nasihat. Nasihat, jika disampaikan dengan cara yang benar, dengan lemah lembut, dengan hikmah, dan dengan sebuah teladan, bukankah itu akan jauh lebih mengena daripada bentakan? atau pukulan? atau debat? Ya. Karena sudah menjadi tabiat seorang manusia untuk selalu merasa benar. Menampakkan kesalahan seseorang di depan orang lain, hanya akan membuat hati mereka bertambah keras. Mendebat pendapat seseorang yang salah dan berusaha mempermalukan mereka dengan pendapat kita yang lebih benar, hanya akan membuat dendam dan mempermudah jalan bagi setan untuk mencuri celah. Maka bijaksanalah dalam memberikan nasihat!

Saat Ku Menyerah

Alkisah pada suatu masa dan di suatu tempat,,-dongeng kali ye..-,, tersebutlah seorang pemuda mengeluhkan permasalahannya pada temennya.. *halah kelamaen prolognya

"Gue nyerah..?"
"loh ngapain nyerah..??
Eh, nyerah dari apa??"
*arghhhhhhh

"Aku nyerah uda menyerah.. Aku g' kuat menjalani hidup ini terus-terusan..
Aku lelah harus menghafal setiap hari,,, terus tanpa henti...
Aku lelah saat aku dikejar waktu, tiap pagi aku harus bersegera nglakuin ini dan itu dengan cepat, tepat, dan g boleh telat
Aku lelah, memenuhi tuntutan kurikulum ini...
Aku lelah harus ndengerin pelajaran tiap hari tapi justru disampaikan dengan gaya mboseni..

Aku lelah...
Aku lelah...

Aku senang bisa menjadi pembimbing bahasa bagi adik-adik kelasku,, tapi aku lelah harus selalu berbuat baik, bersikap dewasa, gak boleh berbuat salah.. ditambah lagi tugas ini itu yang slalu menantiku... Tiap malam harus berjalan dalam kegelapan hanya buat mengistirahatkan mataku yang telah sayu.. Lalu bangun pagi dan ngoprak-oprak juniorku..

Aku senang bisa jadi ketua piket malam, tapi aku lelah harus slalu menahan mata ini terus terjaga.. Aku lelah harus membangunkan anggota-anggotaku,, bolak-balik keliling kamar.. tanpa mereka justru mengacuhkan..

Aku lelah, dibentak-bentak di malam hari, lalu digojlok di pagi hari.. Tanpa henti.. Terus berdiri menaati semua intruksi dari sang SANTRI. Gerak-gerikku slalu diawasi, dan dalam satu kesalahan saja beribu hukuman menanti...

Aku lelah...
Aku lelah...

Aku lelah, terus berkorban dalam hidup ini,,,
Slalu menerima apa yang ku dapat..
Aku lelah menjalani itu semua...
Kadang aku ingin menangis..
Aku ingin menangis karna semua ini..

Aku lelah,,,
Aku lelah... "

Sejenak teman pemuda ini terdiam,, berpikir sedalam-dalamnya ^pluk" *tenggelem,,,

Lalu ia berkata..
" Lelah... Ya udah sono istirahat.. lelah malah ngajak ngobrol.. huu.. *agak sarap
Eh, sory gua cuman bercanda kok...

Lu bilang lu lelah ngapal? Emang lu uda ngapal apa? Al Qur'an g lancar.. Hadis g kebayang, matan g ada,, eh uda brani bilang lu lelah... Ngaca dong ngaca.. Kalo lu tau, di arab sono, anak-anak kecil uda banyak yang hafal,, inget hafal bukan khatam,, seharusnya lu malu dong,,, apalagi kelak lu dimintai pertanggungjawaban ma Allah,,?? hmth

Lu baru sma aja uda lelah nglakuin ini itu,, inget bro.. Hidup ini lebih dari sekedar tuntutan ini itu,,, Lu harus mulai belajar, bahwa hidup adalah usaha, hidup adalah perjalanan,, bukan taman bermain. Lu bisa masuk SMA yang lu sukai make usaha kgk? ^engga C;',,
Yaelah... Gue yakin lu pasti juga berusaha banget kan?? Lu harusnya bersyukur bisa masuk sekolah yang lu ingini, Lu juga harus bersyukur,, uda dididik sejak dini gimana caranya ngadepin hidup ini, jadi ntar lu g kaget....

Gue tau, emang MEMBOSANKAN banget*DiCapslockBiarTambahMbosenin diajar ma guru" yang g jelas gitu*ups,, tapi gue slalu inget,, bahwa Ustad itu slalu berharap kebaikan dari kita,,, mereka g akan pernah njerumusin kita,,*except.... N lu perlu tahu lagi ya,, bahwa dalam setiap perlakuan seorang ustad kepada kita, terdapat sejuta manfaat dan kebaikan.. Ingat sejuta manfaat dan kebaikan bro,,, Jadi lu sabar aj ngadepin para ustad,,*eh..

Lu juga bilang lelah jadi ini itu?? Yaelah bro, amanah umat ini lebih berat.. Lu jadi ini itu cuman buat pemanasan dan tarbiyah,, sebelum kelak lu megang amanah yang sesungguhnya.. Amanah ini gak ngajarin lu buat berpura - pura jadi dewasa, baek ato imut #plak.. Tapi justru sebaliknya,, amanah ini mengajarkan jalan bagaimana biar lu bisa jadi dewasa, baek dan imut #plakplak.. :D

Udah, lu g usah nangis kan gue slalu ada disamping lu #GUBRAK.. hehehe.. Tersenyumlah di Jalan Ini..
Apa yang lu dapet syukuri, karena Rabbmu lebih tahu apa yang terbaik buatmu... "

Kawan pemuda itu menyudahi 'kritikkannya',, Lalu mereka terdiam, trus berpelukan sambil menitikkan air mata... *endingnya g banget

[]huda

Lautan Kebijaksanaan

                Terkadang untuk menyampaikan sebuah kebenaran dan memberantas keburukan itu tidaklah mudah dan memerlukan cara yang tepat dan bijaksana.Namun andaikan hal itu tidak di sampaikan dengan bijaksana maka bisa jadi itu akan menjadi bumerang bagi yang menyampaikannya.
                Kita tentu ingat ketika Inul Daratista dihujat habis-habisan oleh bang haji Rhoma Irama, karena goyang ngebornya yang tidak sesuai dengan etika.Masih hangat juga di pikiran kita ketika Jokowi-Ahok  di olok-olok karena agamanya yang masih dipertanyakan dan tidak sesuai dengan agama mayoritas penduduk jakarta, atau ketika perusahaan Apple memberikan pernyataan bahwa Samsung itu tidak kreatif dan suka njiplak, serta masih banyak lagi contoh-contoh lain yang tidak perlu saya sebutkan.Begitulah ketika kebenaran tidak di sampaikan dengan bijaksana, ia akan menjadi bumerang bagi yang menyampaikannya. Dan kita lihat nama Inul dan goyang ngebornya langsng meroket ke angkasa, begitu pulaJokowi dan Ahok yang lebih banyak mendapat simpati dari masyarakat daripada lawannya, atau Samsung yang penjualannya justrumampu melampauiApple berkali-kali lipat.
                Kita lihat ketika Miss World di Bali kemarin baru di buka dan para ulama ramai ramai melarang di adakannya acara tersebut karena memang tidak sesuai dengan norma dan agama, tapi kemudian apa yang terjadi? Pembukaan Miss World yang disiarkan di televisi justru mengungguli program-program unggulan yang lain. Masalah ini bukanlah antara pro atau kontra, tapi bagaimana menyampaikan kebenaran dan melarang kejelekan dengan sebuah kebijaksanaan.
Dan ternyata, banyak cara yang lebih layak untuk dilakukan, dari pada sekedar mengolok-ngolok dan menghujat, yang justru akan menjadi sponsor gratis untuk menaikkan rating, popoularitas, atau hanya sekedar simpati.
                Banyak lagi contoh yang telah lalu, mengingatkan kita agar tidak gegabah dalam melarang sesuatu, hingga nantinya larangan itu tidak menjadi bumerang bagi kita sebagai juru da’wah, dan akhirnya kita mampu menyikapi sesuatu yang bertentangan dengan apa yang kita yakinidengan lebih dewasa dan bijaksana.Selamat mengarungi lautan kebijaksanaan.

[]Arif M