Beberapa waktu lalu, ada seseorang yang saya lupa siapa, berbagi sebuah foto di sosial media. Foto itu cukup populer di ranah online dan sering dijadikan materi perang gambar di berbagai forum onlinedi Facebook.

Euforia 1 Muharram 1438 H

Pagi itu, Ahad 2 Oktober 2016 bertepatan dengan hari pertama tahun baru hijriah 1438, ketika jam menunjukkan pukul 09.15 WIB, ratusan pemuda-pemudi...

Cinta Dan Cita-Cita

Dua kata berbeda yang saling berkaitan, berkesinambungan dan saling menguatkan. Emm... bagaimana bisa ? Baiklah, mari sejenak memutar otak, mengingat kembali kisah perjuangan seorang budak. Yang sempat membuat hati Rasulullah retak....

Siapa Lagi?

Siapa lagi ? Tepat sudah setahun terlewat Tapi duhai... Sesal, sedih, marah, benci Melihat semua cerminan diri Siapa lagi ? Tatkala tahun telah berganti

النجاح

Semakin ku kejar, semakin kau jauh... Sepotong lirik lagu yang jika dipandang dari segi perjuangan menggapai kesuksesan hanya akan menambatkan rasa pesimis dalam hati seseorang.

Launching MATRIKS









Salah Nalar


Pembawa acara atau MC dituntut memiliki kecakapan untuk menghidupkan suasana dalam sebuah acara. Karena tujuan utamanya untuk memimpin/memandu sebuah acara, tentu kecakapan berbahasa mutlak diperlukan. Terlebih jika menjadi pembawa acara pada acara-acara resmi. Akan tetapi, sudah benarkah bahasa yang mereka gunakan?


Apabila dicermati, bahasa pembawa acara di forum-forum resmi ternyata masih ada kesalahan, terutama salah nalar. Pertama, salah nalar pada saat mengawali acara. Pembawa acara sering mengatakan, “Para hadirin sekalian yang berbahagia, untuk menyingkat waktu marilah kita mulai acara ….” Apabila dicermati, sebenarnya pernyataan di atas tidak benar secara logika dan tata bahasa. Kata hadirin sudah menunjukkan jamak sehingga tidak perlu menambahkan kata para ataupun sekalian. Frasa menyingkat waktu tidak logis karena waktu tidak bisa disingkat. Idealnya pembawa acara menggunakan frasa mengefektifkan waktu. Sebaiknya pembawa acara mengatakan, “Hadirin yang berbahagia, untuk mengefektifkan waktu marilah kita mulai acara …”


Kedua, salah nalar pada saat menyebutkan pergantian acara. Pembawa acara sering mengatakan “Menginjak acara berikutnya” atau “Memasuki acara berikutnya”. Kalimat tersebut tidak logis karena acara tidak untuk diinjak dan tidak bisa dimasuki. Kalimat yang tepat yaitu “Acara selanjutnya adalah …”


Ketiga, salah nalar pada saat mempersilakan seseorang memberi sambutan. Kita sering mendengar “Kepada yang terhormat Bapak Kepala Dinas … waktu dan tempat kami persilakan.” Penggunaan “kepada” untuk mengawali sebuah sapaan tentu tidak benar, begitu pula penggunaan “waktu dan tempat”. Jika pembawa acara hanya satu sebaiknya menggunakan “saya”. Meskipun “kami” dirasakan lebih halus, tetapi tidak tepat untuk menyebut orang pertama tunggal. Kalimat yang sebaiknya diucapkan adalah “Yang terhormat Kepala Dinas … kami/saya persilakan.”


Keempat, salah nalar pada saat menutup acara. Tidak jarang pembawa acara mengatakan “Atas perhatiannya kami ucapkan banyak-banyak terima kasih.” Contoh tersebut jelas salah secara logika. Penggunaan “nya” itu untuk pihak ketiga, padahal hadirin adalah pihak kedua. Penggunaan banyak selain salah nalar karena terima kasih bukanlah kuantitas, juga berlebihan atau mubazir. Kalimat yang benar adalah “Atas perhatian Bapak/Ibu/Saudara, kami/saya mengucapkan terima kasih.”


Memang kesalahan yang dilakukan berulang-ulang tanpa ada pembenaran akhirnya dianggap sebagai sebuah kebenaran. Yang jelas, diharapkan dalam berbahasa kita membiasakan yang benar bukan membenarkan yang biasa. Dari mana kita memulai? Dari diri kita dan mulai sekarang juga! [Giyato(Guru B. Indo)]

Karena Nasihat itu Berlian

Siapa yang tidak menginginkan berlian? Indah, menawan, memesona, tak ternilai harganya.

Namun apalah artinya jika kita memberikan berlian itu dengan melemparkannya ke kepala orang yang ingin kita beri? Bukannya menerima dengan senang hati, namun justru amarah yang akan memendam di hati mereka, bukan?

Itulah adanya sebuah nasihat. Nasihat, jika disampaikan dengan cara yang benar, dengan lemah lembut, dengan hikmah, dan dengan sebuah teladan, bukankah itu akan jauh lebih mengena daripada bentakan? atau pukulan? atau debat? Ya. Karena sudah menjadi tabiat seorang manusia untuk selalu merasa benar. Menampakkan kesalahan seseorang di depan orang lain, hanya akan membuat hati mereka bertambah keras. Mendebat pendapat seseorang yang salah dan berusaha mempermalukan mereka dengan pendapat kita yang lebih benar, hanya akan membuat dendam dan mempermudah jalan bagi setan untuk mencuri celah. Maka bijaksanalah dalam memberikan nasihat!

EL-HUFFAZH dari masa ke masa

Inilah ke 7 edisi El-HUFFAZH,
sebuah majalah kebanggaan OSIS MATIQ Isy Karima 
Edisi 2
Edisi 3

Edisi 7 (bonus DVD)

EL-HUFFAZH

satu lagi, sebuah karya nyata dari kami
untuk Anda dan Dunia
EL-HUFFAZH "Logika Langit"

Semoga terus memercikkan inspirasi
untuk kini dan nanti

dan bagi yang ingin memesan bisa hubungi sekretariat OSIS MATIQ 085728849043